Di era 1960-an, masyarakat Jawa masih sangat menjunjung tinggi wibawa bangsawan dan pemimpin daerah. Namun, di tengah budaya feodal yang kental, muncul kisah luar biasa dari seorang polisi sederhana di Pekalongan bernama Royadin. Cerita ini bukan sekadar tentang penegakan hukum, melainkan tentang integritas, kejujuran, dan keberanian seorang aparat yang pantang tunduk pada status sosial.
Saat Mobil Mewah Dihentikan Polisi Suatu hari di jalanan Pekalongan, Royadin tengah bertugas melakukan pengawasan lalu lintas. Ia melihat sebuah mobil melanggar aturan dan tanpa ragu menghentikannya. Namun betapa terkejutnya ia ketika mengetahui sang pengemudi adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX (HB IX), seorang tokoh besar yang kelak dikenal sebagai Wakil Presiden Indonesia ke-2 sekaligus Raja Yogyakarta yang sangat dihormati.
Bagi banyak orang pada masa itu, menghadapi seorang Sultan bisa membuat lutut gemetar. Namun Royadin tetap teguh pada prinsipnya: siapa pun yang melanggar aturan lalu lintas harus ditindak, tanpa pandang bulu. Dengan penuh sopan, namun tegas, ia memberikan surat tilang kepada Sultan.
Malam Penuh Kekhawatiran Setelah kejadian itu, Royadin tidak bisa tidur nyenyak. Ia membayangkan kemungkinan terburuk: dimarahi atasan, dipindahkan tugas, bahkan dipecat karena berani menilang seorang Sultan. Namun bagi dirinya, yang terpenting adalah melaksanakan tugas dengan jujur sesuai sumpah polisi.
Jawaban Tak Terduga dari Sultan Keesokan harinya, bukannya menerima hukuman, Royadin justru mendapat kabar mengejutkan. Sri Sultan HB IX mengirimkan undangan untuk menemuinya. Dengan hati-hati, Royadin datang ke Yogyakarta. Namun alih-alih marah, Sultan menyambutnya dengan hangat dan penuh hormat.
Sultan menilai sikap Royadin sebagai contoh nyata polisi yang jujur dan berintegritas. Sebagai bentuk penghargaan, Sultan bahkan menawarinya untuk pindah tugas ke Yogyakarta dan menjanjikan jabatan yang lebih tinggi.
Tetap Setia pada Tanah Kelahiran Meski tawaran itu menggiurkan, Royadin memilih untuk tetap tinggal di Pekalongan. Ia merasa sudah menjadi tanggung jawabnya untuk mengabdi di tanah kelahirannya, dekat dengan keluarga dan masyarakat yang membutuhkan. Keputusannya ini menunjukkan bahwa integritas tidak hanya soal keberanian, tetapi juga soal kesetiaan dan pengabdian.
Inspirasi yang Abadi Kisah Royadin hingga kini masih dikenang sebagai teladan yang langka. Di saat banyak orang tergoda dengan kekuasaan dan jabatan, ia justru membuktikan bahwa kejujuran dan prinsip jauh lebih berharga. Bahkan seorang Sultan pun menaruh hormat padanya.
Kisah ini seakan mengingatkan kita bahwa hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, dan kejujuran akan selalu menemukan jalannya untuk dihargai.














